Ilustasi

Presiden Joko Widodo tampaknya masih menahan nama-nama yang masuk kriteria calon wakilnya. Tanggal 7 Juli lalu Jokowi mengatakan bahwa nama cawapres sudah ada di kantongnya, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk diumumkan.

Siapa sebenarnya cawapres Jokowi tersebut? Kenapa hingga saat ini masih belum diumumkan?

Alih-alih segera mengumumkan, Jokowi malah mempersilakan para ketum parpol untuk bersaing menjadi kandidat cawapres baginya. Jokowi tampaknya tidak ingin terburu-buru memutuskan. Ia akan menunggu waktu hingga awal Agustus.

Menuju saat penentuan tersebut, tarik-menarik antar partai koalisi pendukung Jokowi, pandangan Megawati Soekarnoputri dan para thinker seputar istana, serta dinamika di kubu lawan, akan menjadi pencermatan Jokowi. Penundaan pengumuman adalah bagian dari strategi politik.

Karena begitu pentingnya sosok cawapres dalam Pilpres 2019, Jokowi tampak tak ingin salah dalam proses ini. Langkah tersebut tepat karena tugas utama pemimpin tertinggi adalah memilih dengan tepat orang-orang di sekitarnya.

Pemilihan para pembantu, termasuk wakil presiden, akan menjadi penentu keberhasilan dalam memimpin.

Cawapres yang akan dipilih Jokowi, pada akhirnya adalah sosok yang memiliki semua modal yang dibutuhkan, yaitu modal sosial, budaya, dan finansial.

Jadi jika pertanyaannya, dari nama-nama yang sekarang disebut-sebut ada di kantong Jokowi seperti Mahfud MD, Chairul Tanjung, Sri Mulyani Indrawati, Susi Pujiastuti, Din Syamsuddin, KH Ma’roef Amin, Moeldoko, dan para ketum parpol yaitu Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, dan Romahurmuziy, siapa yang akan terpilih, tentu yang memiliki semua modal tersebut.

Selain nama tersebut, masih ada nama seperti Tuan Guru Bajang, Anies Baswedan, AHY, dan Gatot Nurmantyo. Selain itu, jangan lupa ada nama Luhut Panjaitan yang selama ini berada di lingkaran dalam istana.

Bertenggernya nama-nama dari kalangan ulama, tampak merupakan respons kekhawatiran atas persepsi miring terhadap Jokowi. Jokowi dipersepsikan secara salah sebagai tokoh dari kelompok politik yang posisinya berhadap-hadapan dengan umat Islam, karenanya butuh cawapres dari kalangan Islam.

Dari uraian di atas, tampak Jokowi melirik tokoh dengan spektrum yang luas. Tokoh parpol, teknokrat, tokoh media, militer, ahli hukum, kepala daerah, dan kalangan ulama. Dari deretan nama tersebut, tentu hanya satu yang akan diajak menemani ke arena pilpres. Sisanya, bisa jadi ditarik dalam Kabinet Kerja Jilid II.

Berdasarkan potret berbagai hasil survei, Jokowi tak tertandingi. Siapapun cawapresnya, Jokowi memiliki kemungkinan menang yang tinggi.

Satu hal yang harus menjadi pertimbangan adalah sejarah didapatnya kekuasaan oleh Jokowi. Di sini, Jusuf Kalla tak bisa diabaikan begitu saja.

Tulisan ini telah dipublikasikan di Kumparan, 23 Juli 2018.

LEAVE A REPLY