Ilustrasi (Foto: newstempo.github.io)

Pagi itu, sebuah suara seakan memenuhi linimasa media sosial. Dari gurauan di grup pertemanan hingga curahan hati di forum publik, tagar #KaburAjaDulu melintas berulang. Ada yang memakainya untuk menyindir suasana kerja, ada pula yang menjadikannya simbol keinginan meninggalkan tanah kelahiran. Di antara tawa ringan dan satire, terselip kisah-kisah getir: gaji yang tak sebanding dengan biaya hidup, lamaran kerja yang tak kunjung berbalas, dan mimpi yang terasa lebih mungkin diwujudkan di negeri orang.

Di ruang maya, sebuah tagar sering kali menjadi cermin spontan bagi kegelisahan zaman. #KaburAjaDulu lahir tanpa rencana, tetapi gaungnya cepat berlabuh di hati banyak anak muda, menjadi semacam isyarat tentang masa depan yang mereka bayangkan di seberang lautan. Bagi sebagian orang, kemunculannya menandai pudarnya rasa kebangsaan. Namun bagi yang lain, justru merupakan jeritan sunyi dari hati yang masih mencinta, tetapi terusir perlahan oleh realitas yang menghimpit.

Riuh #KaburAjaDulu memang telah mereda, tetapi akar kegelisahan tetap ada. Data BPS per Februari 2025 mencatat tingkat pengangguran terbuka usia 15–24 tahun mencapai 16,16 persen, tertinggi di antara semua kelompok umur. Angka ini jauh melampaui rata-rata nasional sebesar 4,76 persen. Dalam konteks biaya hidup dan pendidikan yang terus melambung, kegelisahan semacam ini mudah bersemi kembali.

Antara Frustrasi dan Harapan

Bagi sebagian anak muda, merantau adalah strategi bertahan hidup. Teori push-pull Everett S. Lee (1966) menjelaskan migrasi sebagai hasil pertemuan antara faktor pendorong—pengangguran, stagnasi gaji, minim prospek—dan faktor penarik di tujuan, seperti kesempatan kerja, pendidikan, atau keamanan. Dalam konteks Indonesia, tingkat pengangguran pemuda yang tinggi menjadi pendorong yang tak bisa diabaikan.

Namun, tidak semua keberangkatan bermula dari keputusasaan. Bagi sebagian, langkah itu adalah investasi jangka panjang: menimba ilmu, membangun jejaring global, dan mengumpulkan modal finansial maupun pengetahuan untuk kelak kembali berkontribusi. Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) mengingatkan, ikatan kebangsaan tidak diukur dari kedekatan geografis, melainkan dari kesadaran kolektif yang terus dipelihara meski jarak memisahkan.

Ulrich Beck (2002) menawarkan konsep rooted cosmopolitanism, yakni cinta tanah air yang berakar pada identitas lokal, tetapi diperkaya oleh pengalaman dan jejaring global.

Contoh nyatanya tampak pada Indonesia Coffee Festival di Belanda yang digelar KBRI Den Haag bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda, mempromosikan kopi nusantara termasuk Aceh Gayo ke publik Eropa. Di Singapura, ada pula insinyur asal Indonesia yang memanfaatkan teknologi konferensi daring untuk membimbing start-up di tanah air. Meski berada jauh di negeri seberang, tetapi mereka dekat dalam kontribusi. Tindakan mereka membuktikan bahwa nasionalisme dapat bertumbuh dari mana pun kaki berpijak.

Ruang Digital, Ruang Aspirasi

Generasi muda Indonesia tumbuh dalam ekosistem digital yang hampir tanpa batas. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 mencatat, 80,66 persen penduduk atau sekitar 229,4 juta orang telah terhubung ke internet. Sebagian besar pengguna berasal dari kalangan muda, terutama generasi Z dan milenial, yang menggunakan internet untuk berkomunikasi, belajar, bekerja, dan bersosialisasi.

Data menunjukkan, 35 persen generasi Z dan 26 persen generasi Y mengakses internet lebih dari enam jam setiap hari. Bagi kelompok ini, internet tidak lagi sekadar sarana penunjang, melainkan ruang hidup kedua yang membentuk cara berpikir, memperluas jejaring, serta mendorong partisipasi dalam kehidupan publik.

Media sosial menjadi salah satu panggung utama. Di sana, gagasan berseliweran tanpa batas geografis, kritik terhadap kebijakan dapat menyebar secepat unggahan foto, dan komunitas lintas minat dapat terbentuk dalam hitungan jam. Fenomena ini memberi peluang besar bagi generasi muda untuk menyuarakan aspirasi, membangun gerakan sosial, dan memperluas jejaring profesional.

Namun, keberadaan media sosial juga menuntut literasi digital yang matang agar ruang tersebut tidak menjadi arena polarisasi atau disinformasi.

Potensi ekonomi digital kian menguat. Data Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi QRIS sepanjang 2024 melonjak sekitar 175 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai pengguna dominan. Transformasi ini memudahkan pelaku usaha muda mengakses pasar yang lebih luas tanpa hambatan fisik. Seorang penjual kopi di Yogyakarta kini dapat memasarkan produknya ke konsumen di Kalimantan, sementara pengrajin kain di Lombok dapat melayani pesanan dari Jakarta hingga luar negeri melalui marketplace nasional.

Bagi generasi muda, ruang digital tidak hanya menjadi tempat mencari peluang, tetapi juga wahana untuk membentuk peran mereka dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Di sinilah mereka belajar memadukan kreativitas dengan teknologi, mengasah keterampilan yang relevan dengan era digital, dan membangun identitas sebagai warga negara yang aktif, kritis, dan adaptif di tengah arus perubahan global.

Tugas Bersama

Menjaga optimisme generasi muda adalah kerja kolektif. Pemerintah memegang peran penting dalam membuka lapangan kerja berkualitas, memperluas infrastruktur digital, serta menyediakan akses pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Dunia usaha dapat menjadi mitra strategis dengan menyediakan ruang magang, program mentoring, dan dukungan bagi inovasi lokal. Lembaga pendidikan perlu menyesuaikan kurikulum agar selaras dengan keterampilan yang dibutuhkan di era digital dan ekonomi hijau. Masyarakat sipil dapat menjadi penggerak inisiatif akar rumput yang menumbuhkan rasa percaya diri dan solidaritas.

Pengalaman negara lain menunjukkan, ekosistem yang sehat bagi generasi muda lahir dari kolaborasi lintas sektor. Di Singapura, pemerintah melalui Enterprise Singapore dan SGInnovate memberikan pendanaan awal, akses ke mentor, dan dukungan inkubasi teknologi bagi wirausahawan muda. Estonia membangun literasi digital sejak sekolah dasar melalui program Tiigrihüpe, yang mengajarkan coding dan robotika untuk menyiapkan generasi muda memanfaatkan teknologi secara produktif.

Finlandia mengintegrasikan keterampilan abad ke-21, termasuk literasi kecerdasan buatan, ke dalam kurikulum. Kursus AI gratis yang dibuka untuk publik menjadi pintu pembelajaran bagi seluruh lapisan masyarakat. Korea Selatan menggerakkan program K-Startup Grand Challenge, yang menyediakan modal tanpa pengambilan saham, akses jejaring global, dan mentor bisnis bagi wirausahawan muda, termasuk peserta dari luar negeri. Rwanda, lewat YouthConnekt, memberdayakan pemuda desa dengan pelatihan teknologi, kewirausahaan, dan jejaring bisnis, sehingga produk lokal mampu menembus pasar nasional dan regional.

Indonesia memiliki peluang yang sama, bahkan lebih besar, jika setiap pihak berani menempatkan generasi muda sebagai mitra sejajar. Harapannya, mereka tidak hanya memilih untuk tinggal dan berkarya di negeri ini, tetapi juga bangga menjadi bagian dari perjalanan membangun bangsa.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.