Mencerna Sen, Menemukan Kebebasan

Arif Susanto

204

etika-berbasis-kebebasanJudul: Etika Berbasis Kebebasan Amartya Sen
Penulis: Sunaryo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: 2017
Tebal: xiv+299 halaman
ISBN: 978-602-03-3820-0

 

Pandangan etis Amartya Sen memberi perhatian pada konsekuensi tindakan, tanpa mengabaikan pentingnya perlindungan kebebasan. Suatu integrasi kebebasan dalam teori kesejahteraan yang dipotret kritis dan terfokus oleh Sunaryo, dengan menelusuri genealogi gagasan Sen. Butuh lebih banyak ilustrasi kebijakan sosial berbagai negara untuk membantu mendaratkan signifikansi gagasan etis Sen.

Dari Kebebasan Menuju Keadilan

Kebebasan dapat dipuja atau dicerca untuk dalih serupa. Pemikir seperti J S Mill (1806-1873) memberi perhatian pada pentingnya perlindungan kebebasan individu, yang dipercaya mampu mendorong kemajuan sosial. Sebaliknya, seorang autokrat seperti Lee Kuan Yew (1923-2015) meyakini bahwa kebebasan boleh diletakkan di bawah apa yang disebutnya integritas negara, juga demi kemajuan sosial.

Terlepas dari kontribusinya terhadap kemajuan sosial, Sen memandang kebebasan sebagai sesuatu yang esensial bagi martabat manusia (Sunaryo, 2017:86). Selain menjadi tujuan pada dirinya, kebebasan adalah juga sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan. Faktanya, dengan tingkat kebebasan lebih baik, pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mampu mewujudkan kesejahteraan publik.

Sen, sebagaimana diterangkan Sunaryo, memahami kebebasan secara komprehensif dalam dua aspek prinsipil: proses (prosedural) dan kesempatan (substansial). Kebebasan dalam aspek proses ada dalam tiadanya paksaan untuk mengambil keputusan. Sedangkan dalam aspek kesempatan, Sen menekankan kemampuan orang untuk mewujudkan sesuatu yang dianggapnya bernilai; suatu kapabilitas.

Penelusuran gagasan kebebasan Sen oleh Sunaryo menunjukkan ketekunan yang mengesankan. Halaman-halaman padat argumen membantu pembaca mencerna bangunan etis dalam pemikiran Sen; lebih daripada itu, Sunaryo memahamkan pembaca tentang asal-usul pemikiran tersebut. Seperti dinyatakan Franz Magnis-Suseno, buku ini mengantar pembaca ke pusat pemikiran Amartya Sen.

Susur galur gagasan Sen disampaikan runtut oleh Sunaryo, menjadikan buku ini sebagai salah satu yang paling panoramik mengulas gagasan kebebasan dalam khazanah kepustakaan Indonesia. Sen sendiri  telah terinspirasi Mill, Hayek, dan Berlin. Namun, suntikan etis Smith dan Marx berkontribusi pada kritik Sen, yang menyebut gagasan-gagasan kebebasan terdahulu itu terlalu menekankan aspek proses.

Dari Smith, misalnya, Sen memperoleh suntikan konsep ‘simpati’ sebagai perangkat imajinasi untuk menimbang kepentingan orang lain –yang kemudian memperluas basis informasi– dalam putusan sosial. Sedangkan dari Marx, Sen antara lain mengambil semangat konsep ‘keterasingan’ demi menunjukkan bahwa “kebebasan untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan” adalah hal penting bagi kemanusiaan.

Perdebatan tentang kebebasan telah menjadi salah satu pokok khusus dalam perjalanan intelektual Sen. Dalam karya-karya mutakhirnya, seperti Development as Freedom (1999), Rationality and Freedom (2002), dan The Idea of Justice (2009), Sen memberi tempat khusus pada diskursus kebebasan. Hal ini, sedemikian rupa, memberi jalan masuk bagi Sen untuk menyusun suatu gagasan tentang keadilan.

‘Teori keadilan’ John Rawls menjadi titik tolak penting proyek Sen untuk menghasilkan suatu alternatif atas pendekatan kontrak sosial. Perspektif sumber daya Rawls turut memberi kontribusi pada konsep kapabilitas Sen, sementara kritiknya terhadap keterbatasan institusionalisme Rawlsian mewujud lewat perluasan lingkup kewajiban etis bagi setiap individu (Sunaryo, 2017:81-86).

Integritas Kebebasan

Dalam reviewnya atas Development as Freedom, Fareed Zakaria menyinggung penganugerahan Hadiah Nobel Ekonomi 1998 kepada Sen sebagai suatu pilihan ganjil (The New York Times, 28 November 1999). Betapa tidak, sambung Zakaria, di bidang yang semakin terobsesi dengan keahlian teknis berperspektif sempit, Sen justru berkutat dengan persoalan-persoalan etis yang luas sekaligus rumit.

Tinjauan filosofis Sen tidaklah kering dan menggantung di awan; perluasan perspektif justru memberi Sen suatu pijakan penting untuk mendaratkan gagasannya. Menimbang itu, tilikan Sunaryo atas gagasan Sen kiranya menjadi lebih kaya dan membumi dengan keluasan ilustrasi seandainya terdapat lebih banyak amatan kritis pengalaman negara-negara dalam merumuskan kebijakan sosial mereka.

Refleksi etis dalam segenap kajian Sen berakar bukan semata dari meja kerja dan ruang kuliah; keterpinggiran yang disaksikannya di berbagai tempat yang pernah ditinggalinya turut membentuk cara pandang Sen yang penuh empati. Keluasan pertimbangan dan kedalaman pandangan Sen mencerminkan perspektif pemikir yang tidak berjarak jauh dari objek kajiannya.

Secara jeli Sen menunjukkan bahwa “kapabilitas untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap bernilai” merupakan tolok ukur kualitas kehidupan. Kapabilitas tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan lingkungan. Melihat kemiskinan sebagai deprivasi kapabilitas, tinjauan kesejahteraan Sen melampaui pandangan tradisional yang lebih berfokus pada capaian itu sendiri (Sunaryo, 2017:109).

Lebih lanjut, Sen mengintegrasikan kebebasan dalam teori pilihan sosial, yang menekankan prosedur dan gagal menghasilkan putusan kolektif memuaskan. Sen mengkritik diabaikannya prinsip partisipasi dan prinsip keberagaman kepentingan. Demikian pula pertimbangan aspek manfaat telah menafikan pentingnya kebebasan, yang memungkinkan diskusi rasional publik (Sunaryo, 2017:172).

Di tengah minimnya perhatian terhadap substansi kebebasan dalam kebijakan publik, tinjauan Sunaryo mengisyaratkan signifikansi pertimbangan etis dalam putusan sosial. Bagi kita yang baru dua dekade terakhir menemukan kembali kebebasan prosedural, gagasan Sen tampak kontekstual demi perwujudan kebebasan substansial dan pengembangan kualitas penalaran publik atas pilihan-pilihan sosial.

ARIF SUSANTO
Analis pada Exposit Strategic; menerjemahkan beberapa karya Sen

LEAVE A REPLY