Sulit membicarakan sosok Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal tanpa membicarakan kontroversi yang mengikutinya. Selama bertahun-tahun, namanya lebih sering dimunculkan dalam perdebatan dan tuduhan mengenai Syiah daripada dalam diskursus mengenai keislaman dan humanisme. Lebih banyak orang yang mengenalnya sebagai tokoh Syiah alih-alih sebagai seorang pemikir yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membicarakan keadilan sosial dan keberpihakan kepada mereka yang lemah.
Bersama Gus Dur dan Cak Nur, namanya kerap ditempatkan dalam jajaran pembaharu pemikiran Islam Indonesia. Berbekal pengetahuan yang luas mengenai komunikasi, filsafat, sejarah, hingga studi Islam, ia menghasilkan puluhan karya yang membentuk cara berpikir banyak generasi Muslim Indonesia. Melalui ceramah, tulisan, aktivitas akademik, hingga kiprah politiknya, Kang Jalal memperkenalkan Islam yang rasional, reflektif, dan terbuka terhadap dialog.
Ketertarikannya terhadap tradisi intelektual Syiah tumbuh dari proses pencarian intelektual yang panjang. Pada masa ketika diskusi mengenai Syiah masih dipenuhi stigma dan prasangka, ia secara terbuka mengkaji karya-karya tokoh seperti Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, hingga Imam Khomeini. Berbagai pemikiran tersebut kemudian ia perkenalkan kepada publik Indonesia melalui bahasa yang lebih mudah dipahami dan dekat dengan konteks lokal.
Pilihan itu tidak datang tanpa konsekuensi. Selama bertahun-tahun Kang Jalal menjadi sasaran berbagai serangan dan tuduhan. Sebagian kelompok menuduhnya hendak melakukan “syiahisasi” Indonesia. Sebagian lainnya mempertanyakan posisi keagamaannya. Tidak sedikit pula yang menolak seluruh gagasannya hanya karena afiliasi mazhab yang ia anut.
Meski demikian, Kang Jalal tidak pernah memandang Syiah sebagai identitas politik yang harus dipertentangkan dengan Sunni. Ia justru berusaha menunjukkan bahwa penghormatan terhadap Ahlul Bait memiliki jejak yang panjang dalam sejarah Islam Nusantara. Tradisi maulid, penghormatan terhadap keturunan Nabi, sejumlah praktik sufistik, hingga peringatan Asyura di berbagai daerah menunjukkan bahwa kecintaan kepada keluarga Nabi bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Muslim Indonesia.
Pemahaman tersebut kemudian mendorongnya terlibat dalam pendirian Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada 2000. Organisasi ini lahir pada masa Reformasi ketika ruang kebebasan sipil mulai terbuka setelah puluhan tahun dikungkung rezim Orde Baru. Bagi Kang Jalal, IJABI bukanlah kendaraan untuk membangun eksklusivitas mazhab, melainkan sebagai ruang bagi para pecinta Ahlul Bait untuk menjalankan keyakinannya secara damai sekaligus berpartisipasi dalam kehidupan kebangsaan. Melalui IJABI, ia juga berupaya memperluas dialog lintas mazhab dan kelompok guna mengurangi prasangka yang selama ini berkembang terhadap kelompok Syiah.
Kecenderungan itu tampak pula dalam cara Kang Jalal memaknai tradisi Syiah yang ia pelajari. Perhatiannya tidak pernah semata-mata tertuju pada perdebatan teologis atau persoalan identitas mazhab. Dalam pembacaannya terhadap sejarah Karbala, ia menemukan teladan Husein mengenai keberanian melawan tirani dan kesediaan membela mereka yang tertindas meskipun harus menghadapi risiko yang besar. Karbala tidak ia lihat sebagai sekadar peristiwa sejarah atau ritual peringatan tahunan, melainkan sebagai pelajaran moral mengenai keberpihakan terhadap keadilan.
Pengaruh pemikir Iran seperti Ali Syariati juga terlihat dalam cara Kang Jalal memandang Islam sebagai kekuatan moral yang harus berpihak kepada kaum mustadh’afin, mereka yang dilemahkan oleh sistem sosial, ekonomi, maupun politik. Pandangan tersebut berulang kali muncul dalam karya-karyanya. Melalui buku-buku seperti Islam Alternatif dan Islam Aktual, ia mengingatkan bahwa agama tidak hadir untuk sekadar mempertegas identitas seseorang, melainkan untuk membangun kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, pembahasan mengenai kemiskinan, ketimpangan sosial, perdamaian, dan nasib kelompok-kelompok yang terpinggirkan selalu mendapat tempat dalam tulisan-tulisannya. Kang Jalal percaya bahwa keber-agama-an yang tidak melahirkan kasih akan mudah berubah menjadi sekadar simbol, sementara agama seharusnya mendorong manusia untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
Posisi semacam itu membuat Kang Jalal kerap berada di luar arus utama. Bagi sebagian kelompok konservatif ia dianggap terlalu pluralis. Bagi sebagian kalangan sekuler ia tetap dipandang terlalu religius. Perdebatan mengenai dirinya bahkan tidak berhenti setelah ia wafat.
Barangkali karena terlalu sering dibicarakan melalui lensa mazhab, banyak orang melewatkan hal yang paling penting dari pemikiran Kang Jalal. Sepanjang hidupnya, ia berupaya menghubungkan agama dengan persoalan kemanusiaan yang konkret. Ia mengingatkan bahwa iman tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengenai hubungan manusia dengan sesamanya.
Hari ini, ketika sentimen sektarian dan politik identitas kembali menguat di berbagai ruang publik, gagasan-gagasan Kang Jalal menjadi semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa perbedaan mazhab tidak boleh menjadi alasan untuk meniadakan kemanusiaan seseorang. Agama, sebagaimana sering ia tunjukkan sepanjang hidupnya, menemukan maknanya yang paling dalam ketika ia berdiri bersama mereka yang lemah, tertindas, dan kerap dilupakan.
Beristirahatlah dalam damai Kang Jalal!
(*) Iman Amirullah adalah Managing Editor Suara Kebebasan dan National Coordinator untuk Students For Liberty Indonesia 2024/2025. Ia merupakan lulusan S1 Hubungan Internasional di Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan fokus studi mengenai studi gerakan sosial.

