Saudaraku, sudah jadi kebiasaan umum untuk mengaitkan nalar (reason) dengan otak, sedang perasaan (emotion) dengan hati. Padahal, baik nalar maupun emosi merupakan bagian dari mental-kejiwaan (mind) dengan organ tubuh yang sama, yakni otak (brain).

Bagaimana cara kita memahami mind manusia dan makhluk lain dilukiskan secara komprehensif dalam The Book of Minds karya Philip Ball (2022).

Ibaratnya, otak itu hardware dari komputer manusia, sedang software-nya adalah mind. Mind bukan hantu (jiwa) dalam mesin (badan). Mind tak bisa dipisahkan dari tubuh (otak juga organ tubuh), tetapi bisa dibedakan.

Mind terbentuk karena hasil interaksi struktur otak manusia dengan lingkungan belajar. Kapasitas otak manusia nyaris tak berubah sejak masa berburu dan meramu, tetapi mind manusia mengalami banyak perubahan hingga bisa menjelajahi luar angkasa, karena pengaruh lingkungan belajar.

Pengaruh lingkungan belajar pada mind itu tampak pada emosi takut. Setiap orang normal punya rasa takut, tetapi apa yang ditakuti dipengaruhi lingkungan. Di Jawa orang bisa takut orang mati, karena sejak kecil terpapar narasi pocong. Di Tanah Toraja, orang bisa hidup serumah dengan mayat, karena lingkungan belajarnya beda.

Segala sesuatu memiliki mind kalau punya pengalaman (experience) merasakan. Dengan itu manusia bisa mengingat. Segala makhluk yang punya (pengalaman) merasakan memiliki hak.

Selain itu, mind juga memiliki kemampuan melakukan (agency): menalar, merencanakan, mengomunikasikan, mengarahkan, dan mendorong tindakan. Segala makhluk yang punya kapasitas agency memiliki tanggung jawab.

Hingga taraf tertentu, ada juga hewan yang memiliki kemampuan merasakan dan melakukan. Bedanya, mind manusia memiliki kesanggupan intentionality: punya kehendak bebas (free will), motif, dan imajinasi jauh. Dengan itu, tindakan manusia juga dilihat dari motif dan kemampuan memilih serta konsekuensinya.

Dibanding hewan, mind manusia umumnya lebih kuat dalam social intelligence. Saat hominid mulai berdiri tegak, di atas tanah ancaman predator lebih banyak. Mulailah belajar kerjasama. Kapasitas social intelligence-nya makin kuat berkat pengembangan bahasa. Dengan bahasa manusia bisa mengembangkan emphatic skills: kolaborasi dan komunikasi.

SHARE
Artikel SebelumnyaBandul Politik
Artikel SelanjutnyaPengkhianatan

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.