Muslimah Feminis: Sebuah Pernyataan Tentang Identitas Perempuan

Neneng Nurjanah [Peminat isu-isu gender, bergiat di PSIK Indonesia]

1805

muslimah-feminisDATA BUKU
Judul : Muslimah Feminis, Penjelajahan Multi Identitas
Penulis : Neng Dara Affiah
Cetakan : April 2009
Penerbit : Nalar Jakarta
Tebal : X + 122 Halaman

Membaca buku dengan tebal 122 halaman ini, membuat ingatan saya tergiring pada Catatan Perjalanan Mengelilingi Dunia karya Nawal El Sadawi dan kumpulan artikelnya Aquarini Prabasmoro. Nuansa dramatis terkuak seiring dengan perenungan sarat makna perjalanan seorang muslimah. Jika M. Dawam Rajardjo mengatakan ini seperti novel, maka saya melihat ini seperti memoar seorang Neng Dara Affiah (selanjutnya saya singkat NDA) yang mengkultuskan identitasnya sebagai seorang Muslimah feminis.

NDA mengungkapkan dirinya yang memiliki 4 identitas yaitu, identitas etnisititas, identitas agama, identitas gender, dan identitas negara. Ini diawali dengan penelusuran identitas penulis sebagai warga Banten. Dengan mengutip Geertz, ia mengungkapkan bahwa etnisitas adalah sesuatu yang melekat pada diri seseorang meskipun berada jauh dari kampung halamannya. Ia melihat Banten sebagai sebagai kawasan yang kental dengan nuansa islam. Diri NDA kemudian terbentuk perlahan. Ia menyadari bahwa selain kental dengan islam, Banten juga kental dengan nuansa politik sehingga pusaran antara agama, politik, dan tradisi keilmuan menjadi tempat NDA kecil tumbuh (hal 20).

Ketika mengenyam bangku SD, NDA terbiasa dengan bacaan ’berat’ seperti Di Bawah Lindungan Ka’bahnya Hamka, Perawan Di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana dan majalah Panjimas yang memuat karya-karya Alm. Cak Nur, Harun Nasution, dan Munawir Sadjali. Dari bacaan itu, identitas keislamannya terbangun. Ia mulai sepakat dengan paham Wahabi (hal 27).

Beranjak remaja, ia memasuki pesantren alquran di Serang. Ia terlibat dengan pengajian tertutup yang disebut dengan ’usrah’ (hal 34). NDA mulai merasakan kegelisahan dalam sanubarinya. Ia merasa terkungkung pada islam yang sempit dan selalu dihantui oleh perasaan takut dosa. Dengan segenap keberanian, NDA akhirnya pindah ke pesantren di Tasikmalaya. Di sana ia mulai merasakan kesejukan Islam dan nuansa spiritual yang damai. Ia menyadari, keihklasan adalah puncak kepasrahan diri seorang Muslim kepada Sang Pencipta. Ia juga mendaraskan bait-bait barjanji yang membuatnya lebih menghayati keindahan Islam (hal 42).

Setelah nyantri di Tasik, NDA berlabuh di IAIN Jakarta. Di sinilah identitas keislamannya dimatangkan. Ia mulai mengenal islam sebagai agama yang pro pada perubahan (hal 51). Pada masa ini pun, NDA mulai berkenalan dengan pemikiran feminime lewat FORMACI (Forum Mahasiswa Ciputat) dan terlibat dengan berbagai diskusi dengan LSM-LSM yang mengangkat isu-isu perempuan (hal 87-88). Pemahaman tentang keadilan gender kemudian dibawa pada aktivitasnya di media Warta NU PBNU sebagai pengelola rubrik ‘Wanita’. Fase ini NDA mulai mensintesiskan identitas kemuslimahannya dengan feminisme.

Sebagai Muslimah, ia memasrahkan jiwanya pada keharibaan yang Mahakuasa. Sebagai seorang feminis, ia mulai aktif di gerakan perempuan dan organisasi yang konsern di bidang pengkajian gender. Terlebih seselesainya kuliah NDA aktif di LSM Perempuan yang berbasis pesantren. Dalam perjalanannya, ia mengalami ganjalan dengan respon dari laki-laki yang menolak pendapatnya. (hal 93). Pun ketika NDA beraktivitas di Fatayat NU yang menggunakan analisis gender untuk melihat teks-teks agama. Penolakan mulai bermunculan dari berbagai kiai karena dianggap kebarat-baratan, merongrong ajaran Islam, dan tidak siapan sebagian orang akan pola hubungan suami-istri (hal 100). Untungnya anggapan ini ditepis oleh Masdar F. Mas’udi, KH Husein Muhammad, KH. Said Aqil Siradj, dan KH. Abdurahman Wahid.

Aktivitas NDA membawanya ke berbagai negara. Perjalanannya menyiratkan pengalaman dan penghayatan terhadap identitas kemuslimahannya. Di Finlandia, NDA merasakan dirinya sebagai kelompok minoritas, karena ia satu-satunya Muslimah yang hadir pada pertemuan itu (hal 58). Pengalamannya saat di pesawat membuat ia sadar bahwa Islam identik dengan cadar dan poligami. Ia merasakan betapa buruknya citra Islam di mata dunia. Berbeda dengan Amerika, NDA merasakan ada nuansa Islam yang lain. Ia merasakan kebebasan agama yang terwujud dengan baik (hal 63). Kemudian, NDA menghayati keberadaan Fazlur Rahman, Seyyed Hossein Nasr, dan Mahmoud Mustafa Ayyoub sebagai sarjana Islam yang menorehkan tinta emas pada kehidupan Islam di sana. Kini, NDA semakin sadar, Islam memiliki beragam wajah dalam satu nafas. Islam bermetamorfosa dengan budaya sehingga Islam memiliki kekhasan tersendiri di setiap negara (hal 65).

Identitas Muslimah feminis NDA bukanlah tanpa sebab. Ia cukup terinspirasi dengan sosok neneknya Hj. Masyitoh. Beliau adalah seseorang yang pantas menyandang sebutan ’indegeunes feminist’, yaitu feminis yang lahir dari interaksi kehidupan sekitar. Neneknya adalah perempuan yang berdaulat atas dirinya dan tidak tunduk ketika harus berhadapan dengan pemuka agama laki-laki. Kharismanya menyirap pandangan sehingga warga sekitar menaruh penghormatan padanya. (hal 79)

Terakhir, NDA mengajak kita menelisik identitasnya sebagai anak bangsa. Pada mulanya, ia tidak begitu percaya terhadap penguasa. Namun, seiring dengan kematangan intelektualnya, NDA aktif dalam gerakan reformasi, gerakan kebebasan pers serta perjuangan dalam mengajukan penundaan pengesahan RUU APP (rancangan undang-undang anti pornoaksi dan pornografi) (hal 117). Dari sini, NDA menghayati kebhinekaan Indonesia hanyalah kata-kata semata. Indonesia ternyata belum siap menerima keberagaman. Di akhir tulisannya, NDA pun merefleksikan rasa kebangsaanya dengan mengajukan pertanyaan ”Apa artinya negara jika tak memberikan apa-apa pada warganya?”

Identitas

Pesoalan yang menonjol dari buku ini adalah permasalahan identitas. Namun yang lebih menarik sebenarnya perjalanan NDA untuk meraih subjektivitasnya. Farah Wardani (dalam sebuah harian nasional, 5 September 2003) mengungkapkan, gagasan subjektivitas merupakan gabungan antara teori semiotika dan psikoanalisis Jacques Lacan tentang tahapan identitas manusia. Subjektivitas melihat bagaimana manusia terbentuk sebagai subjek, sebuah sudut pandang untuk mengetahui bagaimana identitas terbentuk dengan mengakui aspek-aspek yang berada di luar kendali si subjek itu sendiri.

Dalam konteks buku ini, saya melihat betul perjalanan NDA menuju subjek yang utuh. Berawal dari objek aturan keluarga sampai ketika NDA menginginkan hak untuk memilih jalan hidupnya. Semua NDA lalui untuk mendapatkan kedaulatan atas dirnya. Ayahnya yang bersikap antagonis dan digambarkan sosok patriarkhal, akhirnya menjadi luluh dan peduli terhadap pendiriannya. Keteganganpun mencair dan proses memahami berjalan baik antara NDA dan ayahnya. Selain itu, proses penghormatan atas ketauladanan neneknya menambah teguh NDA untuk meraih subjektivitasnya secara untuh. NDA berusaha menjadi subjek yang religius sekaligus subjek yang feminis. Tentunya ini menjadi proses yang penuh gejolak emosi dan intelektual yang sengit.

Subjektivitas inilah yang kemudian memunculkan identitas NDA. Mengutip pernyataan Braidotti identity bears a privilaged bord to unconscious (Prabasmoro, 2006:245). Maksudnya identitas memuat keterkaitan pribadi pada ketaksadaran. Religi, feminitas, etnisitas, dan kebangsaan seperti rempah-rempah yang tercampur aduk dalam kuali yang bernama NDA. Aspek-aspek ini secara tak sadar membentuk indentitas NDA yang kompleks. Ini kombinasi menarik yang melahirkan pribadi yang unik. Mungkin tepat jika buku ini mengambil sub judul ”Penjelajahan Multi Identitas”, karena keempat aspek di atas cukup berpengaruh dalam proses pembentukan identitas NDA.

Selain itu, NDA melakukan gerakan perempuan untuk memperoleh kebebasan. Simon de Beavoir mengungkapkan, perempuan akan memperoleh kebebasan dengan melakukan empat hal. Pertama, perempuan bekerja di ranah publik untuk menegaskan posisinya sebagai subjek dalam menentukan arah nasibnya. Kedua, perempuan menjadi intelektual untuk menegaskan posisi perempuan sebagai subjek yang melakukan aktivitas pemikiran bukan hanya sebagai objek pemikiran. Ketiga, perempuan bekerja untuk memperoleh transformasi masyarakat, artinya perempuan membantu menciptakan kondisi masyarakat untuk mentransendensi batasan yang melingkarinya sekarang. Terakhir, perempuan harus memiliki kekutan ekonomi untuk memperoleh kebebasannya (Tong, 2005:274-275).

Dari keempat hal ini, tiga hal sudah dilakukan oleh NDA. Dengan aktif di organisasi perempuan (baca: LSM Perempuan), NDA menjadi intelektual, bekerja di ranah publik dan mentransformasikan ide-ide feminisme kepada lingkungan sekitar. Maka, secara tidak langsung (merunut pandangan Simon) NDA telah mendapatkan kebebasannya sebagai perempuan. Tidak hanya kebebasan dirinya, ia pun berusaha membebaskan perempuan lain agar menjadi ’manusia yang utuh’.

Terakhir, meskipun pada pengantar buku ini diungkapkan bahwa ini bukanlah buku yang dikatakan ilmiah. Tapi bagi saya kata ‘ilmiah’ adalah nisbi. Dalam jagat feminisme, ada perdebatan mengenai epistemologi ’nalar’ dan ’pengalaman’. Mengutip pernyataan Walby (dalam Ann Brooks) bahwa gagasan ’pengalaman’ adalah basis bagi suatu epistemologi alternatif. Konsep ’pengalaman’ mengisyaratkan usaha bagaimana perempuan mengetahui. Sementara konsep ’nalar’ yang digunakan sebagai epistemologi modern menjadi maskulin dan mengisyaratkan usaha ’bagaimana laki-laki mengetahui’.

Tentunya dengan membaca buku ini, kita bisa mengetahui melalui pengalamannya, NDA bisa memberikan titik terang bagaimana seorang muslimah menjadi feminis. Gaya-gaya penceritaan ini juga dilakukan oleh Nawal El Saadawi dan Aquarini P. Dengan penceritaan seperti ini, akan terlihat pandangan khas ala feminis dalam menilik sebuah persoalan hidup.

Kurang Greget

Membaca buku ini, membuat saya sebagai mojang Parahyangan merasa terhanyut pada haru biru kehidupan dan merah nyala perjuangan NDA. Namun yang disayangkan, ekplorasi entisitas NDA tidak begitu tajam. Ia hanya memberikan deskripsi singkat tentang Banten dan kehidupan keluarganya di Banten, ini terasa kering. Jika NDA menulis dalam posisi kritis terhadap identitas entisitasnya (baca: kesundaanya), maka buku ini akan lebih kritis. Ini pun terjadi pada Bab 4 ’Sebagai Anak Bangsa’. Ia menyoroti perjalanan bangsa, kiprah Fatayat NU dan kehidupannya aktivismenya. Akan lebih menarik, jika ada pendapat NDA yang tajam menohok persoalan bangsa.

Dari pemaparan ini yang paling menonjol hanya identitas keperempuan dan keislamannya saja. Jika penggarapan identitas entisitas dan kebangsaan sedalam identitas perempuan dan keislamannya, maka akan terasa penjelajahan atas multi identitas NDA. Buku ini akan terasa seperi gado-gado yang pedas yang membuat kita jadi cenghar* dalam melihat realitas yang ada.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan, saya menilai buku ini baik untuk dikonsumsi oleh muslimah di Indonesia. Buku ini, menawarkan solusi yang kongkret tentang posisi perempuan dalam islam, kritis terhadap teks-teks agama, dan menginspirasi perempuan agar terangkat dari posisi yang subordinat. Sehingga, sebagai mayoritas, Muslimah Indonesia bisa membawa kehidupan perempuan ke arah yang lebih baik.

Selain itu, buku ini mencoba menengarai tajamnya perdebatan antara Islam dan feminisme, khususnya yang terjadi di Indonesia. Buku ini pun seakan berujar pada dunia ”Islam Sayang Muslimah Feminis”.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.