Public Lecture Yudi Latif

Ki Hajar Dewantara mengungkapkan, “Dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.”

Ungkapan tersebut dimaksudkan Ki Hajar Dewantara untuk mengingatkan sistem pendidikan di masa kolonial saat itu yang terlalu berat pada intelektualisme sehingga kurang memperhatikan keluhuran budi.

Tampaknya, fenomena pendidikan yang kurang memperhatikan keluhuran budi yang menjadi keprihatinan Ki Hajar Dewantara kala itu terulang kembali saat ini.

Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Sitepu saat membahas buku Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif karya Yudi Latif bahkan mengungkapkan, pendidikan saat ini bukan hanya kurang memperhatikan keluhuran budi, melainkan juga kurang mampu mengembangkan intelektualitas (Kompas 1/11/2020).

Di era revolusi industri 4.0 ini, pendidikan cenderung menitikberatkan pada penciptaan kemampuan teknikal. Padahal, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang sedemikian cepat. Sebab itu, pendidikan yang menekankan pada kemampuan teknikal tidak akan bisa mengimbangi laju perkembangan teknologi.

Proses pendidikan seharusnya membantu peserta didik menemukan dan mengenali potensi sendiri dan lingkungan mereka sehingga siap menghadapi segala perubahan. Hanya dengan proses pendidikan yang memerdekakan, peserta didik dapat sepenuhnya mengembangkan potensinya.

Itu sebabnya, seperti yang diungkapkan Yudi Latif (Kompas, 3/5/2021), “Fungsi pendidikan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi harus didasari pendidikan nilai dan karakter sebagai modal sosial dan modal moral dalam rangka melahirkan manusia berbudi luhur sebagai bekal menjadi warga negara dan warga dunia yang baik. … Peserta didik tak cukup dibekali kecakapan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir strategis dan analitis-sintesis dengan wawasan mental lebih holistik.”

Dengan kata lain, pendidikan tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya. “Pendidikan yang dikehendaki adalah pendidikan berkebudayaan, yang mengupayakan bersatunya pikiran, perasaan dan tekad-kemauan manusia yang mendorong kekuatan yang bisa melahirkan penciptaan dan perbuatan yang baik, benar dan indah.”

Dalam hal ini, pendidikan dimaknai sebagai wahana pembudayaan dan pemberadaban untuk menghasilkan insan yang berbudaya dan beradab, yang dapat mengembangkan kecerdasan pikir, kepekaan rasa, dan kreativitas karsa, dan ketangkasan raga.

Untuk membahas topik yang sangat penting ini, PSIK Indonesia bekerja sama dengan Kemenko PMK RI dan FES Kantor Perwakilan Indonesia menggelar Public Lecture yang dibawakan oleh Yudi Latif, Ph.D. bertajuk “Pendidikan sebagai Proses Kebudayaan”. Kuliah publik ini dimoderatori Eva Fitriati, M.A. (dosen UIN Jakarta).

Waktu dan tempat:

  • Waktu: Rabu, 5 Mei 2021, Pukul 13.00-15.00 WIB
  • Tempat: Live Zoom

Fasilitas

  • E-certificate.
  • Hadiah beragam buku untuk 10 penulis catatan reflektif terbaik.
  • Free internet allowance untuk penanya terbaik.

Berikut rekaman acaranya di chanel Youtube PSIK-Indonesia TV.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.