Empati dan Altruisme di Tengah Pandemi Covid-19
Warga menyiapkan plastik berisi paket sembako gratis untuk dibagikan kepada warga yang terdampak pandemi COVID-19 di lingkungan RW 03, Kelurahan Lempongsari, Gajahmungkur, Semarang, Jumat, 2 Juli 2021. Kegiatan sosial gotong royong menyediakan paket bahan kebutuhan pokok gratis secara swadaya dari warga untuk warga. (Foto: ANTARA/Aji Styawan)

Kita berada di masa yang penuh ketidakpastian. Saya tidak pernah membayangkannya, siapa pun tidak pernah menduganya, namun semua orang sekarang terdampak olehnya. Oleh karenanya saya akan terbuka dan transparan kepada Anda semua di saat yang penuh tantangan ini.

Tidak bisa dipungkiri industri ini sangat terpukul, dan kami pun tidak terkecuali. Ini mungkin tantangan terbesar yang harus kami hadapi. Tidak ada pendapatan yang masuk untuk sementara, 96 persen armada kami tidak terbang, dan kami masih memiliki komitmen finansial yang harus dipenuhi, seperti kepada pemasok bahan bakar dan agen penyewaan pesawat.

Kami menempuh segala upaya yang dimungkinkan untuk mengurangi beban selama periode ini, agar kami dapat kembali pulih secepatnya dan menjadi maskapai low-cost terbaik dunia, membuat semua orang bisa kembali terbang dengan layanan terbaik.

Penggalan paragraf di atas adalah kutipan “surat cinta” dari salah satu CEO maskapai penerbangan di Asia. Bos maskapai tersebut mengirimkan surat elektronik kepada masing-masing pelanggannya agar tidak meminta refund atas pembatalan jadwal keberangkatan. Ia berharap, para pelanggannya bersedia melakukan reschedule (meski berulang kali) agar dana yang ada dapat mereka putar untuk menggaji karyawan dan membiayai kebutuhan lainnya.

Beragam empati muncul dari pelanggan setia maskapai tersebut atas “surat cinta” yang diberikan Tony Fernandes kepada mereka. Rasa empati ini pada akhirnya menumbuhkan sikap altruisme (perilaku menolong orang lain tanpa mengharap imbalan apa pun) dengan satu harapan agar maskapai tersebut tetap dapat menolong karyawannya untuk bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19.

Fadhillah Fauza

Peristiwa memilukan di atas boleh jadi tidak hanya menimpa perusahaan penerbangan. Hampir semua sektor usaha dan industri mengalami nasib yang sama. Fakta ini menunjukkan bahwa penyebaran COVID-19 tak hanya berdampak pada bidang kesehatan semata, tetapi juga pada pada semua dimensi kehidupan manusia.

Duka dan kesedihan tak hanya terjadi pada mereka yang ditinggal pergi keluarganya, tetapi juga pada banyak orang yang kehilangan mata pencahariannya. Kehidupan yang menjadi serbasulit dengan ruang gerak yang semakin terjepit membuat banyak orang merasa tak berdaya dan tak tahu harus melakukan apa. Padahal kita membutuhkan semangat dan kekuatan untuk dapat melalui krisis ini dengan baik.

Berdamai dengan hati dan situasi adalah cara terbaik yang harus dilakukan oleh kita semua agar krisis ini tidak menumbuhkan derita berkepanjangan. Kejadian ini tentu tidak ada yang menduga. Namun, seberapa pun sulitnya keadaan yang kita hadapi, kita mesti memiliki harapan bahwa kita dapat melaluinya. Semua musibah pasti ada akhirnya.

Di harian Media Indonesia (8/4/2020), Yudi Latif menulis, “Dalam terang kehidupan normal, manusia sulit mengenali kebenaran hakiki. Kesejatian tersamar ornamen pernak-pernik penampilan. Saat zaman kelam datang, barulah kita kenali mana yang benar sejati, mana yang palsu manipulasi.” Bila kita kurang yakin watak asli seseorang atau suatu bangsa, tunggulah hingga gelap menyergap: di sana bisa kita kenali watak sesungguhnya.

Situasi sulit pada akhirnya menguji sejauh mana kita memiliki rasa empati terhadap orang lain. Di saat bersamaan juga, kesulitan yang dihadapi semua orang ini memantik sikap altruisme yang mungkin dalam kondisi normal jarang dilakukan.

Seperti yang terjadi pada para pelanggan AirAsia di atas yang bersedia menjadwal ulang penerbangan mereka. Itu pun tak hanya sekali, tetapi berkali-kali penjadwalan ulang. Para pelanggan sadar bahwa mereka punya hak untuk meminta pengembalian dana, namun mereka tak melakukannya. Dengan bersikap menahan diri untuk tidak menuntut haknya itu, para pelanggan setidaknya telah meringankan beban maskapai dan menolong para karyawannya dari kemungkinan kehilangan pekerjaan.

Banyak yang mengira, krisis yang terjadi akan membuat masyarakat menjadi anarkis. Kesulitan membuat orang-orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri dan tak peduli dengan nasib orang lain. Namun, yang terjadi sebaliknya. Solidaritas dan kepedulian pada sesama justru tumbuh di mana-mana. Tidak sedikit warga, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas, membangun inisiatif untuk bahu-membahu meringankan beban sesama.

Berkembangnya rasa empati dan sikap altruisme di kala krisis ini patut kita syukuri. Sikap baik ini ibarat titik terang dalam kegelapan. Dalam situasi yang mudah membuat orang merasa tak berdaya, sikap kepedulian terhadap sesama mampu memberi kekuatan dan menumbuhkan harapan bagi siapa saja yang berjuang menghadapi krisis. Sebab, paling tidak mereka tahu, mereka tidak sendiri.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.