Lebaran Pengorbanan

Yudi Latif, Anggota Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society

69
Ilustrasi lebaran

Lebaran di tengah wabah benar-benar lebaran pengorbanan yang memungkinkan manusia kembali ke fitrah kebahagiaan. Tatkala para pembesar negeri melarang warga mudik lebaran, seorang asisten rumah tangga berkata: “Tuan bisa menikmati berbagai macam kebahagiaan sepanjang tahun, sedang kebahagian saya cuma sekali setahun, yaitu mudik lebaran. Apakah kebahagiaan satu-satunya itu pun harus saya korbankan?”

Adalah William James, filsuf Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa kepedulian utama manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan. Bagaimana cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkan kebahagiaan merupakan motif tersembunyi dari tindakan kebanyakan orang, termasuk dalam kehidupan beragama. Kebahagiaan yang dirasakan orang dalam keyakinannya, dijadikan bukti kebenarannya.

Sigmund Freud menjangkarkan kebahagiaan itu pada pencapaian kenikmatan-seksual (the will pleasure), sedangkan Alfred Adler pada kehendak untuk berkuasa (the will to power). Namun, Viktor Frankl, lewat refleksi dirinya sebagai penyintas yang nyaris bunuh diri di kamp konsentrasi Nazi, mengajukan pandangan yang berbeda. Menurut dia, pencapaian kebahagiaan tertinggi itu terengkuh bukanlah dalam keberhasilan, kesenangan dan kekuasaan, melainkan dalam keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan segala pahit getirnya. Frankl percaya pada kehendak untuk menemukan makna (the will to meaning)–lewat kemampuan berdamai dengan kenyataan dan pengorbanan untuk menjadi lebih besar daripada diri sendiri–merupakan sumber kebahagiaan tertinggi.

Akan tetapi, apa artinya makna hidup jika kenyataan sehari-hari senantiasa dirundung kemiskinan, kekalahan persaingan, pungutan liar, ketidakpastian peraturan, diabaikan partai politik—yang kepeduliannya sekadar mengibarkan bendera saat kampanye tanpa bantuan nyata saat rakyat menderita—dan para pejabat negara yang kepeduliannya hanya menaikkan gaji (tunjangan) bagi pegawai negara, dengan menaikkan harga dan iuran bagi rakyat, tanpa kesanggupan memulihkan daya usaha dan pengharapan rakyatnya.

Dalam kesulitan menemukan makna hidup ke depan, orang-orang akan mencarinya dengan berpaling ke belakang. Kepulangan ke kampung halaman, dengan segala klangenannya sambil merembeskan rezeki atau mencari suaka sementara dari kepengapan hidup kota besar, merupakan mekanisme katarsis demi mengisi kekosongan makna hidup. Itulah sebabnya, mengapa berbagai cara dilakukan dengan menerobos bergai blokade untuk tetap bisa mudik.

Dengan bisa memahami tidak berarti menyetujui kenekatan mudik tahun ini. Inti pesannya adalah kemampuan membaca yang tersirat, dengan sikap empati. Betapa rakyat kecil sebagai korban pembangunan justru kerapkali dituntut untuk berkorban. Tatkala krisis ekonomi menghantam, perhatian terbesar seringkali justru diberikan untuk penyelamatan pengusaha-pengusaha besar. Saat para pemudik yang numpang truk atau angkutan darat lainnya diminta putar balik atau diberi sanksi, bandara justru dibuka bagi yang punya.

Apakah elit negeri ini sudah merasa bahagia dengan pencapaian kehendak untuk berkuasa? Kalau kebahagiaan kita berhenti sampai di situ, maka manusia belum melampaui primata purba. Dalam komunitas simpanse pun ada semacam pemilihan pemimpinnya. Dan, yang dipilih bukanlah yang paling tinggi dan paling kekar perawakannya, melainkan yang paling canggih melakukan pencitraan, yakni yang paling banyak melakukan ciuman dan pelukan.

Setelah terpilih sebagai pemimpin, apa pun yang disukainya, makanan atau simpanse betina, sama sekali tidak boleh disentuh oleh yang lain. Alhasil, dalam komunitas simpanse, kepemimpinan itu bukan soal melayani rakyatnya, melainkan bagaimana dilayani oleh rakyatnya.

Perburuan kebahagiaan manusia mestinya tidak berhenti sebatas “cinta kuasa” (the love of power), tetapi bisa meninggi menjadi “kuasa mencintai” (the power of love). Kekuasaan menyediakan peluang yang lebih lebar untuk menghadapi kenyataan sosial dengan segala kegetiran dan kesulitannya, dan memberi kesempatan untuk bisa menjadi lebih besar daripada diri sendiri, dengan kerelaan berkorban untuk melayani rakyatnya. Hal ini diingatkan dalam lirik lagu “Hari Lebaran” ciptaan Ismail Marzuki, “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.”

Adalah tugas para pemimpin untuk menciptakan sorga di dunia dengan memulihkan kebahagiaan rakyatnya. Dunia dapat menjadi surga, ketika kita saling mencintai dan mengasihi, saling melayani, dan saling menjadi sarana bagi pertumbuhan batin dan keselamatan. Dunia juga bisa menjadi neraka jika kita hidup dalam rongrongan rasa sakit, pengkhianatan, kehilangan cinta, dan miskin perhatian.

Hanya dengan kemampuan memulihkan kebaikan cinta-kasih dan cinta-moralitas, kepadatan beribadah selama Ramadhan bisa menghadirkan kemenangan dan kebahagiaan sejati. Nabi Muhammad bersabda, ”Maukah aku tunjukkan perbuatan yang lebih baik daripada puasa, shalat, dan sedekah? Kerjakan kebaikan dan prinsip-prinsip yang tinggi di tengah-tengah manusia.”

Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas, 28 Mei 2020.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.