Menghidupkan Harapan
Ilustrasi (Foto: health.sunnybrook.ca)

Dalam momen yang menguji daya sintas bangsa, para pemimpin politik dihadapkan pada pertanyaan gugatan Mencius, ”Adakah perbedaan antara membunuh manusia dengan belati dan membunuhnya dengan salah urus?”

Harapan itu sesuatu bersayap yang hinggap di jiwa, menyanyikan nada tanpa kata, dan tak pernah henti sama sekali. Demikian tulis Emily Dickinson. Harapan itu melantunkan nyanyian kehidupan dalam dua jenis nada. Nada mayor membangkitkan ”harapan positif”, yang merangsang gairah orang untuk berbuat kebajikan. Nada minor membangkitkan ”harapan negatif”, yang merangsang lara keinsyafan orang agar terhindar dari keburukan.

Harapan positif itu bergema dari jiwa-jiwa altruis, seperti ”semut-semut” komunitas yang bergotong royong meringankan derita sesama dalam alunan nada mayor yang sepi ing pamrih, rame ing gawe. Seperti hartawan dermawan (sungguhan, bukan tipuan) yang hidup bersahaja tanpa gila harta dan puja. Kemampuan usaha dan akumulasi kekayaannya dinikmati sebagai wahana dan amanah untuk berbakti menumbuhkan harapan bagi mereka yang kurang mampu dan kurang beruntung.

Memenuhi bayangan Andrew Carnegie, generasi awal miliuner Amerika Serikat, yang memelopori standar kemuliaan orang kaya dengan ukuran kesukarelaannya mengembangkan lembaga filantropi, dana amanah, dan berbagai bentuk bantuan sosial. Dalam perspektif kesalehan kemakmuran Carnegie, ”Orang yang mati dengan meninggalkan kekayaan berlimpah, tanpa memberi manfaat bagi sesama, mati dalam kehinaan.”

Harapan positif itu seperti para atlet Indonesia yang berjuang di ajang kompetisi antarbangsa. Dalam olahraga mengatasnamakan bangsa, kobaran jiwa ”amatir” (amateur)—dari Latin, amātor (pencinta)—membuat atlet profesional ternama sekalipun siap bertarung demi cinta kepada negerinya. Saat dunia politik paceklik penyanyi merdu, dunia olahraga bisa melahirkan biduan pujaan sebagai sandaran harapan kebanggaan nasional. Nada mayor yang didendangkan etos kejuangan para atlet bisa ditularkan energi positifnya pada ranah tata kelola negara.

Harapan positif itu seperti keteladanan Alif Gustakhiyat alias Alip Ba Ta, gitaris fingerstyle Indonesia. Dengan segala kebersahajaan tanpa banyak kata, sentuhan magis permainan gitar akustiknya menghipnotis banyak jiwa seantero dunia. Keterbatasan hidupnya sebagai sopir forklift tak mengendurkan hasratnya menekuni permainan gitar secara otodidak, dengan menyadari pilihannya sebagai panggilan jiwa sekaligus moral purpose hidupnya.

Tanpa obsesi komersialisasi dan popularisasi yang berlebih, ia berhasil menjadi versi terbaik dari dirinya yang berbeda dari kecenderungan artis arus utama. Ia tampil bak ”satria bergitar” yang dengan seorang diri, tanpa bantuan negara, menjadi pahlawan bangsa di pentas (maya) dunia. Kehebatan permainan gitar dan kepribadiannya menularkan energi positif kebanggaan nasional serta merangsang minat warganet dan musisi dunia belajar lebih banyak tentang bahasa dan budaya Indonesia.

Meski nada mayor masih terdengar di tengah masyarakat, arus deras pengharapan bangsa masih menggemakan tembang bernada minor. Di bawah ancaman wabah, segala kelemahan negara-bangsa terungkap tanpa bisa ditutupi dengan pencitraan dan sogokan. ”Harapan negatif” menjadi koor sehari-sehari, mengharapkan penyelenggara negara tidak salah urus dan salah tingkah, dengan tendensi cuma ramai dalam klaim-pamrih (rame ing pamrih), tetapi sepi dalam kerja-kinerja (sepi ing gawe) saat nyawa jutaan rakyat dipertaruhkan.

Dalam momen yang menguji daya sintas bangsa, para pemimpin politik dihadapkan pada pertanyaan gugatan Mencius, ”Adakah perbedaan antara membunuh manusia dengan belati dan membunuhnya dengan salah urus?” Tidak, jawab sang raja. Jika demikian, ujar Mencius, pastikan rumah tangga kerajaan tidak menggelar pesta seremonial dan mengoleksi kuda gemuk-gemuk, sementara rakyat sekarat kelaparan. Manakala pemimpin negara lebih memerhatikan rakyat ketimbang dirinya sendiri, rakyat akan mengetahuinya dan membuat mereka setia kepada pemimpinnya yang menjadikan negara kuat.

Dengan meluasnya tendensi ”timokrasi” (kekuasaan gila popularitas), tata kelola negara, bahkan di tengah ancaman wabah, cenderung mengedepankan kesan kehebatan permukaan ketimbang menyelamatkan nyawa manusia. Karena itulah, sejumlah ahli memperkirakan Indonesia sedang menuju jebakan pandemi dan bisa menjadi negara terakhir yang keluar dari cengkeraman wabah.

Meski demikian, bangsa ini belum kehilangan pengharapan. Cuma kebebalan keledai bisa terperosok ke lubang yang sama dua kali. Letupan nada mayor di tengah masyarakat mestinya menggugah penyelenggara negara untuk bisa memperbesar api harapan positifnya dengan kesungguhan menyimak harapan negatif. Publik berharap dengan cemas, bagaimana penanganan wabah bisa dikelola secara lebih sistemik dan efektif, bukan bersifat sporadis tambal-sulam. Bagaimana proses vaksinasi bisa lebih cepat, dengan melibatkan peran komunitas dan pasar, tanpa penjelimetan prosedur dan kehebohan seremonial.

Publik juga berharap, kalau elite politik tak bisa mengambil peran dalam pemberantasan wabah, setidaknya punya sikap empati terhadap derita rakyat. Kalau tak bisa menyumbang materi, setidaknya tak jadi pemburu rente dalam bisnis pandemi, menggelapkan dana bantuan sosial, dan menghamburkan uang rakyat untuk kunjungan luar negeri.

Kalau tak bisa berperan dalam meluaskan akses pelayanan kesehatan bagi rakyat, setidaknya tak menuntut layanan isolasi khusus bagi wakil rakyat. Kalau tak banyak yang bisa dikerjakan sebagai pelayan publik, setidaknya tak memperlihatkan keasyikan menikmati hiburan. Kalau tak bisa menghasilkan prestasi, setidaknya tidak meninabobokan rakyat dengan candu pencapaian palsu.

Akhirnya, harus dikatakan bahwa tindakan politik memang dibentuk oleh berbagai aktor dan kepentingan. Namun, tetap saja memerlukan kapasitas pemimpin untuk memilih jalan yang tepat. Luruskan niat, berharap Tuhan menunjuki jalan lurus.

*) Tulisan ini telah dimuat di harian Kompas 5 Agustus 2021.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.