Mochtar Pabottingi
Mochtar Pabottingi (Foto: tribuntoraja.com)
Tulisan ”Panggilan Kerinduan” itu tampaknya dipersiapkan Mochtar sebagai salam perpisahan dan pengharapan sebelum beliau dipanggil untuk memenuhi kerinduan berpulang ke alam kehidupan lainnya.

Terlahir di Bulukumba, tepat di tahun kemerdekaan (1945), Mochtar Pabottingi mendarahi jiwa heroik pelayar pinisi: berwawasan kosmopolitan, berani mengarungi ombak, penuh penghitungan, tak mau kompromi dengan risiko kebocoran. Di sisi lain, jiwa pelayar juga memiliki kepekaan untuk mengkhidmati keheningan, ketakbertepian, keindahan, keagungan.

Meminjam ungkapan Mohammad Hatta, ”Pada bangsa pelaut ini, keinginan untuk menempuh laut besar membakar jiwa senantiasa. Dengan perahunya yang ramping dilayarinya lautan besar dengan tidak mengenal gentar, ditempuhnya rantau yang jauh dengan tiada mengingat takut.”

Pada saat yang sama, Bung Hatta juga melukiskan bahwa pecahan ombak yang berderai di tepi pantainya, dengan irama yang tetap, mengasah kepekaan rasa, sedangkan perjumpaan yang tetap dengan bangsa-bangsa asing mengasah budi pekertinya dan menjadikannya bangsa yang ramah.

”Multifaced”, multidisiplin

Ya, sosok Mochtar memperlihatkan mono-dualitas karakter seperti itu. Tegas dalam prinsip etik, ramah dalam tata krama; kosmopolitan tanpa melupakan ”rumah”; logis-teoretis tanpa kehilangan daya estetis; mendukung dan mengapresiasi seseorang/sesuatu, tanpa sungkan melancarkan sikap kritis; kaya ilmu namun sederhana dalam kehidupan.

Tentang kualitas terakhir ini, Ronny Adhikarya, kompatriotnya saat menempuh pendidikan di Honolulu, mengenang Mochtar sebagai pribadi ”ramah dan cerdas”. Hal yang sama diamini para tetangga dan tokoh Muhammadiyah setempat saat melakukan takziah di rumah duka.

Karakternya yang bersifat multifaced, dengan wawasan keilmuan dan keahliannya yang bersifat multidisiplin: sastra, bahasa, sejarah, politik, sastrawan, pekerja teater, jurnalis, pengajar dan peneliti; ditambah dengan konsistensi posisi etisnya, membuatnya sulit dikerangkeng di satu kutub dengan fanatisisme buta.

Oleh karena itu, ia cenderung berada di posisi liminal (ruang antara), yang membuatnya bisa mengambil jarak dan melakukan pengamatan secara lebih jernih. Dengan demikian, posisi pemikirannya bisa dijadikan sarana bagi segala elemen bangsa untuk becermin diri.

Sebagai penjelajah yang aktif mengamati kehidupan bangsa dari ruang antara, Mochtar bisa melihat gerak maju dan mundur, yang laju dan layu, yang sejati dan palsu dalam lintasan sejarah bangsa.

Setiap percobaan perubahan yang berakhir dengan mengulang kesalahan yang sama membuatnya terus berayun dari satu kekecewaan ke kekecewaan yang lain. Kerap kali ia tumpahkan kekecewaannya itu dengan menyebut Indonesia sebagai state manque: ”Sebuah negara yang, karena tak dapat menemukan suatu bentuk politik yang cocok bagi watak rakyatnya, tersandung dari penemuan institusional yang satu ke yang lainnya.”

Namun, kekecewaannya tak membuatnya putus asa. Sebagai sosok religius, Mochtar tak pernah kehilangan antusiasme. Semakin memahami persoalan bangsanya, makin besar rasa tanggung jawab untuk ikut mengatasinya. Seperti ungkapan dalam suatu kitab suci, ”Dalam kelimpahan kearifan terpancar banyak kesedihan dan siapa yang bertambah ilmunya bertambah keharuannya.”

Problem ingatan

Panggilan historis untuk terlibat mengatasi persoalan dan tantangan bangsanya itulah yang membuat para penjelajah bahari akan senantiasa merindukan ”kepulangan” ke rumah fitrah bangsanya. Tulisan terakhirnya di Kompas (8/3/2023), ”Panggilan Kerinduan”, merefleksikan perasaan tersebut.

Di sana diingatkan bahwa dengan merebaknya berbagai tindak korupsi, penyalahgunaan hukum dan kekuasaan, ada arus besar kerinduan bangsa untuk menambatkan kembali Republik pada visi emansipatoris perjuangan kemerdekaan dan karakter luhur pendiri bangsa.

Bahwa perkembangan sejarah yang sehat harus dijalani dengan mempertahankan yang baik, membuang yang buruk; bukan mempertahankan yang buruk, membuang yang baik.

Problem Indonesia adalah problem ingatan. Ketika sebuah rezim tumbang, visi politik tak diarahkan untuk memenangi masa depan, melainkan ditarik mundur ke masa lalu dengan segala ingatan kepedihannya.

Mimpi kebebasan pascakolonial dan pasca-otoritarian sangat rentan terhadap sisa-sisa infeksi dari pengalaman traumatis yang tak terdamaikan, dengan terus melestarikan siasat politik adu domba berbasis identitas, terlebih jika bertaut dengan mismanajemen kekuasaan yang mengarah pada eksklusivisme politik dan ketidakadilan ekonomi.

Dalam kaitan itu, Mochtar mengingatkan bahwa para pendiri bangsa pun tak luput dari kekurangan dan mereka pun saling berselisih sebagaimana lazimnya politisi. Namun, mereka sama-sama merasa sebagai bagian dari arus emansipatoris.

Bahwa politik bukan semata perjuangan kuasa demi kekuasaan, yang kepeduliannya sekadar berebut suara lima tahun sekali. Politik mengandung cita-cita emansipasi, untuk mentransformasikan kehidupan bangsa dari belenggu kolonialisme dan feodalisme menuju kehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Salah satu hambatan untuk mewujudkan kerinduan akan visi negara merdeka itu adalah ”perangkap masa lalu” dan jebakan orientasi jangka pendek (”aji serakah”, ”aji mumpung”, dalam istilah Mochtar) yang melanda elite politik kita.

Hal itu terjadi karena kita tak bisa melihat masa lalu secara jernih, yang merabunkan visi kita ke masa depan. Bahwa, masa lalu itu sesungguhnya tak pernah sepenuhnya terang dan tak pernah sepenuhnya gelap.

Kita harus bisa mempertahankan yang terang dan menyingkirkan yang gelap. Akan tetapi, dalam bayangan arus besar bangsa Indonesia, masa lalu itu senantiasa membersitkan ingatan pedih yang tak bisa dilampau, dengan risiko mengulanginya.

Sebuah bangsa yang tidak bisa melihat sisi-sisi terang dari masa lalu tidak memiliki jangkar untuk menambatkan visi masa depan.

Memang benar, tak ada seorang pun yang bisa mengantisipasi segala sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Akan tetapi, memprediksi kemungkinan yang terjadi di masa depan lebih baik daripada tak mempersiapkannya sama sekali. Untuk itu, pengetahuan tentang masa lalu dapat membantu memahami masa depan.

Tanpa menyadari masa lalu, perjalanan ke depan ibarat memasuki lorong sunyi kekelaman. Amnesia merupakan kemalangan ketidaktahuan dalam kesunyian. Mochtar masih yakin, dengan segala kegelapan yang menghadang bangsa ini, masih akan ada para pemikir pejuang tercerahkan yang tetap tabah menunjukkan jalan cahaya ke masa depan.

Duduk satu meja bersama dalam acara ”Spirit Guru Bangsa—Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafii—dalam Aspek Bernegara Masa Kini”, di Teater Jakarta, 18 Maret 2023, ia berpesan agar saya terus terlibat dalam lembaga-warisan guru-guru bangsa tersebut sebagai wahana mempromosikan ekspresi keagamaan yang menekankan visi emansipatoris dan laku etis.

Dengan pesan seperti itu, Mochtar seperti ingin memancarkan optimisme profetik seperti diungkapkan Jalaluddin Rumi.

Menurut Rumi, ”Kesedihan menyiapkanmu untuk kegembiraan. Dia menyapu bersih semuanya dari rumahmu sehingga kegembiraan baru dapat memasuki ruang. Dia menggugurkan dedaunan yang menguning dari dahan hatimu, agar dedaunan hijau dan segar dapat tumbuh di tempatnya. Dia mencabut akar yang busuk, agar akar baru yang tersembunyi di baliknya punya ruang untuk tumbuh. Kesedihan apa pun yang luruh dari hatimu, hal-hal yang jauh lebih baik akan mengambil alih tempatnya.”

Patah-tumbuh, hilang berganti. Tulisan ”Panggilan Kerinduan” itu tampaknya dipersiapkan Mochtar sebagai salam perpisahan dan pengharapan sebelum beliau dipanggil untuk memenuhi kerinduan berpulang ke alam kehidupan lainnya.

Tepat di hari raya Idul Fitri, 22 April 2023, Bung Mochtar mengalami serangan jantung yang membuatnya seketika koma. Dengan segala ikhtiar untuk memulihkan kondisi kesehatannya, Yang Maha Kuasa punya rencana terbaik. Ia dipanggil pulang ke rumah keabadian pada Minggu, 4 Juni 2023, dini hari.

Selamat jalan, Bung Mochtar. Jalan petualangan dan penelitian ini telah kau tempuh sepanjang hayat. Beristirahatlah dengan damai. Berbahagialah, engkau mengakhiri hidup dengan penemuan terbaik: mati khusnul khatimah dengan memberi cahaya bagi yang ditinggalkan.

*Artikel ini telah dipublikasikan di Kompas.id pada 5 Juni 2023.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.