Ilustrasi (Foto: asahsaya.com)

Kita tahu, salah satu peran penting pendidikan adalah untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan di masa depan, memasuki dunia kerja, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial. Mereka akan memasuki kehidupan yang dipenuhi dengan keberagaman. Namun, sayangnya, iklim keberagaman belum membudaya di satuan pendidikan di Indonesia.

Padahal sangat penting untuk mengenalkan dan membiasakan peserta didik dengan keberagaman sejak dini. Kemajuan teknologi informasi dan transportasi mempersempit jarak dan waktu. Di masa kini, jauh lebih mudah bagi kita untuk bertemu dan berhubungan dengan orang-orang dari beragam wilayah dengan kekhasan budaya dan cara berpikirnya masing-masing. Komunitas tempat kita beraktivitas pun semakin diisi dengan orang-orang yang beragam.

Itu sebabnya, sekolah seharusnya membekali dan membiasakan peserta didik untuk hidup dalam keberagaman.

Namun, tampaknya masih banyak pendidik yang belum menyadari situasi ini. Mereka belum memahami apa itu keberagaman dan mengapa ini penting untuk ditumbuhkan di lingkungan sekolah.

Hasil Asesmen Nasional 2021 menunjukkan, baru 32 persen satuan pendidikan yang telah membudayakan sikap kebinekaan. Sebanyak 59 persen masih perlu menguatkan, sedangkan 9 persen satuan pendidikan perlu meningkatkan sikap kebinekaan (Kompas 8/4/2022).

Penelitian yang dilakukan Convey Indonesia menunjukkan, meski sebagian besar bersikap moderat, tetapi ada kecenderungan menguatnya konservatisme di kalangan generasi muda. Ini tampak dari sikap mereka yang menonjolkan identitas keagamaan ketika merespons isu-isu keragaman dan toleransi. Tidak berkembangnya iklim keberagaman di sekolah bisa jadi menjadi salah satu faktor yang menyebabkannya.

Kejadian tak menyenangkan yang dialami putri saya baru-baru ini juga menunjukkan menguatnya sikap anti keberagaman di generasi muda, bahkan di usia Sekolah Dasar. Ketika itu, teman putri saya main ke rumah kami. Saat sedang keluar rumah, putri saya dan temannya dilempari bola dan mendapat serangan verbal dari dua anak perempuan yang sebaya. Yang menjadi penyebabnya adalah karena teman putri saya agamanya berbeda.

Meski tak menimbulkan luka fisik, kejadian itu menimbulkan trauma psikis pada teman putri saya. Saya tak tahu, apakah ia masih mau main ke rumah saya lagi.

Perundungan atas dasar agama itu ternyata juga dialami oleh teman putri saya yang lain. Tinggalnya kebetulan tak jauh dari rumah saya. Karena perlakuan tak menyenangkan yang dialaminya, ia kemudian hanya menutup diri di rumah, tak berani bersosialisasi dengan para tetangga.

Jujur, ketika mendengar cerita itu dari anak saya, terasa sesak di dada. Sebagian anak-anak di lingkungan saya sudah belajar atau tepatnya diajari untuk membenci anak lain karena perbedaan latar belakang agamanya.

Padahal keberagaman merupakan keniscayaan dalam kehidupan manusia, terutama bagi kita yang hidup di Indonesia. Ketika sikap anti keberagaman semakin menguat di kalangan generasi muda, kehidupan masyarakat di masa depan bisa jadi akan dipenuhi dengan konflik tak berkesudahan. Alih-alih bekerja sama membangun bangsa, tenaga akan habis dipakai untuk bertengkar dengan sesama bangsa sendiri.

Hal penting lain yang perlu dipahami adalah bahwa keberagaman tidak hanya bersifat demografis semata. Keberagaman juga berkaitan dengan pemahaman bahwa setiap individu memiliki keunikan sendiri-sendiri, termasuk dalam bagaimana mereka memahami dunia dan diri mereka sendiri.

Sangat penting untuk mengembangkan iklim keberagaman dalam pendidikan. Sekolah semestinya menjadi tempat peserta didik untuk belajar nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan penghargaan terhadap sesama.

Adanya iklim keberagaman di sekolah akan meningkatkan kepekaan dan kemampuan peserta didik untuk menghadapi perbedaan. Hal ini juga untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat beradaptasi dengan baik dan mengembangkan dirinya secara optimal dalam dunia yang beragam.

Mengembangkan iklim keberagaman tidak semata dengan memasukkan peserta didik yang beragam dalam satu kelas. Satu kelas atau sekolah bisa saja terdiri atas siswa yang beragam, tetapi dalam praktiknya menekankan satu sikap dan pandangan yang seragam dari pihak yang dominan.

Sebaliknya, satu kelas atau sekolah yang muridnya relatif homogen bisa saja kuat iklim keberagamannya ketika mereka mengembangkan pemahaman dan sikap yang terbuka terhadap perbedaan.

Lagipula, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, keberagaman tidak hanya mencakup perbedaan gender, status sosial-ekonomi, ras, suku, ataupun agama. Ada juga yang disebut cognitive diversity (keberagaman kognitif), yaitu keragaman dalam pendapat, pandangan dunia, keyakinan, nilai, dan gaya pemecahan masalah.

Keberagaman kognitif bersifat antarindividu. Dengan adanya keberagaman kognitif, betapa pun homogennya anggota suatu kelompok secara demografis, tetap saja ada keberagaman di dalamnya.

Yang perlu diupayakan adalah bagaimana mewujudkan proses belajar-mengajar yang inklusif. Dengan pembelajaran yang bersifat inklusif, semua siswa dihargai dalam keunikannya. Para pendidik berupaya untuk menciptakan lingkungan dan suasana belajar di mana semua peserta didik yang ada diakui sebagai bagian dari sekolah, dihargai dan dihormati hak-haknya, didengarkan pendapatnya, dan diperlakukan secara setara dengan siswa-siswa lainnya.

Iklim keberagaman tidak hanya berguna untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan dewasanya kelak, tetapi juga penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan, keberagaman dalam suatu komunitas meningkatkan daya kreativitas dan nalar kritis para anggotanya.

Iklim keberagaman sekolah memungkinkan peserta didik untuk mempertimbangkan perspektif dan pendapat yang berbeda dengan yang telah mereka terima dari keluarga dan lingkungan mereka sebelumnya. Adanya keragaman sudut pandang di kelas memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpikir kritis tentang keyakinan mereka sendiri, memungkinkan mereka untuk memandang dunia dengan cara baru.

Selain itu, anggota yang memiliki rasa dimiliki dan rasa memiliki komunitasnya akan memiliki kinerja yang lebih baik dan berpartisipasi secara lebih aktif dalam kegiatan komunitasnya.

Dengan demikian, sekolah yang mengembangkan sikap keberagaman atau penghargaan terhadap perbedaan akan lebih mampu menumbuhkan daya kreativitas dan daya nalar peserta didiknya.

Selain itu, karena merasa diterima, peserta didik akan merasa nyaman sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal. Peserta didik pun akan memiliki sense of belonging terhadap lingkungan sekolah. Dengan adanya rasa memiliki, ia akan berpartisipasi lebih aktif di sekolahnya.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.